Skip to toolbar

Adab Berdoa

Basmalah

1. Memuji Allah تعالى sebelum berdoa

Karena dalam doa, kita meminta pemberian, rahmat, dan Ampunan-Nya; maka yang paling utama adalah memulainya dengan memuji, mengagunggkan-Nya sesuai dengan kedudukan-Nya.

Diriwayatkan dari Fadhalah bin ’Ubaid[1], beliau berkata:

بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدْ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ قَالَ ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ

Ketika Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam duduk, tiba-tiba seseorang masuk dan melakukan shalat dan berdoa; ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku. Kemudian beliau berkata: “Engkau telah tergesa-gesa wahai orang yang melakukan shalat. Apabila engkau melakukan shalat lalu duduk maka pujilah Allah dengan pujian yang menjadi hak-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdoalah kepada-Nya!” Kemudian ada orang lain setelah kejadian tersebut yang melakukan shalat lalu memuji Allah, dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam berkata: “Wahai orang yang melakukan shalat, berdoalah maka doamu akan dikabulkan!”

2. Berprasangka baik kepada Allah تعالى

Allah تعالى berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, …. (Al-Baqarah:186)

Allah سبحانه dekat dengan kita, makna kedekatan tersebut adalah kedekatan dengan ilmu-Nya, Dia meliputi kita, dan penjagaan-Nya. Nabi صلى الله عليه وسلم telah memerintahkan kita untuk memasrahkan terkabulnya urusan kepada Allah تعالى dan meyakini akan terkabulnya apa yang kita harapkan. Abu Hurairah[2] telah berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ

Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan”

yaitu kita yakin bahwasanya Allah tidak akan menyia-nyiakan kita karena luasnya kedermawanan-Nya dan agungnnya keutamaan-Nya, jika seseorang berdoa dengan rasa harap yang benar dan doa yang ikhlas, karena seseorang yang berdoa jika tidak yakin rasa harapnya, maka doanya tidak dikatakan sebagai doa yang benar.

3. Mengakui Dosa

Ini adalah amalan penyempurna ’ubudiyah (penyembahan) kepada Allah تعالى. Dari ’Ali bin Abi Thalib[3] رضي الله عنه, beliau berkata:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ لَيَعْجَبُ إِلَى الْعَبْدِ إِذَا قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، قَالَ: عَبْدِي عَرَفَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ وَيُعَاقِبُ

Bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “sesungguhnya Allah kagum kepada hamba ketika berkata:’Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau‘, Maka Allah berkata:’Hambaku mengetahui bahwasanya hanya rabnya yang mengampuni dan menyiksa’”

4. Ber’azam (serius/sungguh-sungguh) dalam meminta

Dari Anas bin Malik[4] رضي الله عنه, beliau berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلَا يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي فَإِنَّهُ لَا مُسْتَكْرِهَ لَهُ

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "Apabila seseorang sedang berdo’a, hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdo’a, dan janganlah mengatakan; ‘Ya Allah, jika Engkau kehendaki berilah aku…’ sebab Allah sama sekali tidak ada yang bisa memaksa.

Yang dimaksud dengan ber’azam dalam doa adalah: meminta dengan bersungguh-sungguh dan kuat.

4. Kuat/keras permintaannya dalam berdoa

Kuat di sini bermakna lawannya kendur bukan pelan (-red.)
Dari ’Aisyah[5] رضي الله عنها, beliau berkata:

سُرِقَتْ مِلْحَفَةٌ لَهَا فَجَعَلَتْ تَدْعُو عَلَى مَنْ سَرَقَهَا فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُسَبِّخِي عَنْهُ

>selimutnya telah dicuri, kemudian ia mendoakan keburukan atas orang yang mencurinya. Maka Nabi shallallahu ’alaihi wasallam berkata: “Janganlah engkau memperingan hukuman darinya.”

yaitu, janganlah kamu memperingan terhadapnya dalam do’a-doamu terhadap dosa-dosa yang merupakan hak para pencuri.

6. Berdo’a tiga kali

Berdasarkan hadits shahih yang panjang dari riwayat muslim dari ibnu Mas’ud[6] رضي الله عنه:

فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ رَفَعَ صَوْتَهُ ثُمَّ دَعَا عَلَيْهِمْ وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلَاثًا وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ

Setelah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menunaikan shalat, beliau mengeraskan suaranya dan mendo’akan kejelekan terhadap mereka. Apabila beliau berdo’a, biasanya beliau mengulanginya sampai tiga kali, dan apabila beliau meminta, beliau juga mengucapkan tiga kali, kemudian beliau berucap: “Allahumma ’alaika bi Quraisy (Ya Allah, binasakanlah orang-orang Quraisy).”

7. Berdo’a dengan cakupan makna yang luas

Yaitu kata-kata ringkas namun berfaidah yang menunjukkan besarnya makna meskipun dengan lafadz yang sedikit serta mencapai maksud yang diminta dengan memendekkan metode dan meringkasnya, seperti yang diriwayatkan dalam sunan Abu Dawud dan musnad Imam Ahmad dari ’Aisya رضي الله عنها, bahwasanya beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنْ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ

Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang singkat padat, dan meninggalkan selain itu.

Do’a-doa seperti ini misalnya adalah do’a yang diriwayatkan oleh Farwah bin Naufil[7], beliau berkata:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ دُعَاءٍ كَانَ يَدْعُو بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Aku bertanya kepada Aisyah tentang do’a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: "ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA ‘AMILTU WA SYARRI MAA LAM A’MAL (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan).’

Dan dari Abu Musa Al-Asy’ari[8] رضي الله عنه:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: “ALOOHUMMAGHFIRLII KHOTHII’ATII, WAJAHLIII WA ISROOFII FII AMRII, WAMAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII, ALLOOHUMMAGHFIRLII JIDDII, WAHAZLII, WAKHOTH”II, WA’AMDII, WAKULLUN DZAALIKA ’INDII, ALLOOHUMMAGHFIRLII MAA QODDAMTU WAMAA AKHKHORTU, WAMAA ASRORTU WAMAA A’LANTU, WAMAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII, ANTAL MUQODDIM ANTAL MU“AKHKHIR, WA ANTA ’ALAA KULLI SYAI’IN QODIIRUN (Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Engkaulah yang mengajukan dan Engkaulah yang menangguhkan, serta Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu).”

8. Memulai doa dengan mendoakan diri sendiri

Memulai doa dengan mendoakan diri sendiri adalah mencontoh firman-firmal Allah تعالى:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami (Al-Hasr:10)

Dan Firman Allah تعالى:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ

Musa berdoa: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau (Al-A’raaf:151)

Dan juga firman Allah تعالى:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)"

Dan juga dari sunnah rasul, dari ibnu ’Abbas dari Ubai bin Ka’ab[9]:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَكَرَ أَحَدًا فَدَعَا لَهُ بَدَأَ بِنَفْسِهِ

bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam apabila menyebutkan seseorang kemudian mendoakan kebaikan baginya maka beliau memulai dengan diri sendiri.

Akan tetapi hal tersebut bukan lah kebiasaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang selalu dilakukan, karena terdapat dalam hadits shahih bahwasanya beliau mendoakan orang lain tanpa mendoakan dirinya sendiri seperti sabda beliau صلى الله عليه وسلم dalam kisah Hajar:

يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ أَوْ قَالَ لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنْ الْمَاءِ لَكَانَتْ عَيْنًا مَعِينًا

Allah merahmati Ummu Isma’il (Siti Hajar) karena kalau dia membiarkan air zamzam“ atau Beliau bersabda: ”kalau dia tidak membendung air zamzam", tentulah air itu akan menjadi air yang mengalir.

9. Mencari waktu-waktu yang mustahab (dicintai Allah dan Rasul-Nya)

Waktu-waktu mustahabah yaitu:

  1. Pertengahan malam,
  2. Antara adzan dan iqamat
  3. Ketika sujud
  4. Ketika adzan
  5. Ketika bertemu musuh
  6. Setelah Ashr hari jum’at
  7. Hari ’Arafah
  8. Ketika turun hujan
  9. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan

Diringkas dari Adab islamiyah[10]

Yogyakarta, 8 Jumadil Ula 1345/8 Maret 2014

Abul Abbas Al-Banarany Al-Thuwailiby


  1. HR. Tirmidzi No. 3476 (shahih)  ↩
  2. HR. Tirmidzi No. 3479 (hasan shahih)  ↩
  3. HR. Al-Hakim No. 2482 (shahih)  ↩
  4. HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi  ↩
  5. HR. Abu Dawud (Shahih)  ↩
  6. HR. Muslim No. 1793  ↩
  7. HR. Muslim dan Abu Dawud  ↩
  8. HR. Muslim  ↩
  9. HR. Tirmidzi (Shahih)  ↩
  10. Dr. ’Abd Al-Hamid bin ’Abd Al-Rahman Al-Suhaibany, Adab Islamiyah. Dar ibn Khuzaimah. hal 7 – 11  ↩