Skip to toolbar

Tafsir Kalimat Laa ilaaha illaa allah

BasmalahShahadah

Di indoneisa, khususnya institusi formal, penafsiran kalimat tauhid لا اله إلا الله selalu ditafsirkan dengan kalimat “Tiada tuhan selain Allah”. Kalimat penafsiran seperti itu menimbulkan sedikit pertanyaan, apakah makna kata “Tuhan”? Apakah berarti sesembahan atau pencipta dan pengatur seluruh alam semesta? Jika Tuhan berarti sesembahan, penafsiran tadi merupakan penafsiran yang bathil, karena faktanya tidak ada sesembahan selain Allah azza wa jalla, seperti Isa putra Maryam, pohon keramat, dll. Atau penafsiran tersebut bisa berarti bahwa semua sesembahan yang ada, seperti jin, pohon keramat, dll, adalah perwujudan Allah azza wa jalla? Subhanallah.

Sedangkan jika Tuhan diartikan sebagai pencipta dan pengatur seluruh alam, niscaya orang-orang kafir qurays sudah termasuk kaum muslimin, karena mereka mengimani rububiyah Allah azza wa jalla meskipun tidak secara sempurna.

Menurut Syaikh Shalih Al Fauzan, Ada beberapa penafsiran dari kalimat tauhid لا اله إلا الله oleh berbagai macam golongan, yaitu:

1. Tafsir kelompok wihdatul wujud

Orang-orang wihdatul wujud, yaitu ibnu ‘Aroby dan pengikutnya, berkata:” (لا اله إلا الله) bermakna tidak ada sesembahan selain Allah, atau tidak ada sesembahan yang ada selain Allah. Makna dari penafsiran tersebut adalah bahwa semua sesembahan semuanya adalah Allah azza wa jalla, karena menurut mereka wujud ini tidaklah dibagi antara pencipta dan mahluk, semuanya adalah Allah, apapun yang disembah oleh mahluk, maka dia dianggap telah menyembah Allah azza wa jalla.

2. Tafsir dari para ulama filsafat

Para ulama ahli filsafat menafsirkan kalimat لا اله إلا الله dengan makna: tidak ada yang mempu mengadakan, menciptakan, mengatur dan mewujudkan selain Allah. Penafsiran semacam ini tidaklah benar, karena ia mencocoki penafsiran dari kaum musyrikin, Orang-orang musyrik mengatakan tidak ada yang mampu menciptakan kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan kecuali Allah, tidak ada yang mematikan kecuali Allah, ini adalah tauhid rububiyah.

3. Penafsiran orang-orang jahmiyah, mu’tazilah dan yang meniadakan nama-nama dan sifat-sifat

Mereka beranggapan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah sebuah kemusyrikan, sedangkan tauhid menurutnya adalah meniadakan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

4. Penafsiran orang-orang hizbiyin dan ikhwani hari ini

Tafsir kalimat tauhid menurut mereka adalah tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Perkataan mereka hanya sebagian dari tafsir kalimat لا اله إلا الله, karena makna yang benar dari kalimat tauhid adalah sempurna untuk seluruh macam peribadahan. Mereka hanya mengurusi masalah hukum saja, padahal masih ada ibadah yang lain seperti rukuk, sujud, menyembelih, bernadzar, dan ibadah-ibadah lainnya.  Mereka tidak meniadakan berbagaimacam bentuk kesyirikan. Padahal tauhidlah yang menyelamatkan orang-orang yang merealisaikannya dari api neraka, dan seluruh nabi dari awal hingga yang terakhir diutus mendakwahkan tauhid, seluruh kitab diturunkan untuk menerangkan atas kalimat ini

5. Tafsir menurut ahlus sunnah wal jama’ah

Makna لا اله إلا الله menurut ahlus sunnah wal jama’ah adalah: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, karena kenyataannya sesembahan umat manunisia sangat banyak, oleh karena itu sesembahan yang benar adalah Allah saja satu-satunya. Maka, peribadatan kepada selain Allah adalah peribadatan yang tidak benar, seperti firman Allah azza wa jalla dalam QS Al Hajj: 62:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Artinya:
(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Yogyakarta 10 Dzul hijjah

———————————

Dinukil dan disarikan dari Syarh Tafsir Kalimat Al-Tauhid, Syaikh Shalih ibnu Fauzan ibn ‘Abdullah Al Fauzan, Dar Al Imam Ahmad